• Random
  • Archive
  • RSS
  • Ask
  • Submit

Semar Ketir

Tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda ~ Robert Scholes (1992: 1)

Dalam dia kau tatap kata ku;

Aku tau kau mengerti akan maksud apa yang ku untai;

Kau tak hiraukan;

Aku yakini kau lakukan itu;

Kenapa tak kau ucapkan jika tak inginkan aku tuk dekati mu;

Kau cantik aku sadari; Mata hati pun ucapkan demikian;

Merona; Tapi bukan diam yang aku harap;

Bukan maksud terburu akan tingkah ku mendekati;

Namun aku tak tau seperti apa harus ku berbuat;

Bertabur harap ku tunggu ucap dari mu;

Namun hanya diam ku lepas waktu di sepenanjung asa;

Kau memang cantik aku sadari; Namun kau diam saat ku berucap;

  • 2 days ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Seuruni;

Seruling bisu patahkan teriak ombak di lepas waktu;

Larastia lepas kaki menari di ujung bisu berteriak;

Berputar;

Hilir angin temani diam dalam pesona tarian bisu memuncak;

Aku seuruni; Menatap tari dari kejauhan;

  • 2 days ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Bella terdiam; Tatap kata dalam terangnya hidup dia hiasi;

Bella tak ku kenal; Harapkan ku kenal;

Begitu cantik dalam padang ku;

Begitu indah dalam tatap hati ku;

Bella menari di depan ribuan mawar di taman itu;

Begitu indah, begitu indah Belalang berucap;

Bella tersenyum, merona jelas aku tatap mawar di sekitar;

Bella sungguh cantik dalam tamannya;

Indah, namun tak terjamah oleh jemari hati ku;

Bella terdiam, sombongkan kata tak dia ucap akan sapa ku;

Aku tertunduk; Bella membuang tatap akan sapa ku;

Tanya ku; Pudarkah indahnya jika selalu ku tatap?;

Bella tersenyum; Dua makna dalam satu tanya ku;

Tak di anggap dalam indahnya dia menari;

Sakiti harap yang ku tumpuk dalam bingkai dia tersenyum;

Bella;

  • 2 days ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Dia indah, sejukan jemari yang terbaring di taman surgawi;

Namun dia tak tersenyum, hanya melihat tanpa kata ingin terucap;

Belalang bisikan kabar akan dia sedang rasakan indahnya mencintai;

Belalang bisikan; dia indah, namun tak mencintai yang punyai jemari;

Ku lepas pandang ku pada yang indah;

Bukan kerana rasa yang tak ingin ku tulis bersama indahnya;

Namun kerana rasa lain yang tak ingin ku lukai adanya;

Indah; Namun cukup ku tatap hingga malam ini;

Jemari ku rebah, tak ada sapa dari indahnya jemari yang ku harap;

Terus menunggu habiskan waktu, sisakan harap yang tak pernah terbalas;

Di sana dia tak pernah mengenal ku; Begitu jua aku yang di sini;

Untaian kata ku tulis dalam jemari; Hanya di lihat, hanya di tatap;

Sungguh harapkan balas; Kerana waktu terus berlalu; Hanya menatap, hanya di lihat;

Belalang pergi; Aku ikuti; Jemari ikuti; Belalang menatap tanpa rasa;

  • 2 days ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Aku tak mungkin terus mengalah sepanjang waktu; Sebab aku lelaki; Ayah mengajarkan ku dengan tegas akan hal itu; Namun aku tetap lemah menghadapi yang ku cinta;
  • 1 week ago
  • 1
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Mungkin benar adaya, jika semua tidak harus berikan sikap yang sama setiap waktu, walaupun nyaman di rasa yang lain, namun mungkin aku pun harus lakukan yang demikian pada yang lain.
  • 1 week ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Camar ceritakan asmaranya di tangga itu

Betapa hangatnya kisah yang mereka rajut

Iri, aku mendengar dia berucap

Bagaimana bisa mereka selalu hangat seperti itu

Aku yakin, bukan hanya sang camar seorang yang tersenyum

Aku tidak sendiri katanya

Namun kenapa,

Aku rasakan sendiri arungi semua

Kemana mereka yang ucapnya ada di dekat ku

Tak banyak yang bisa ku lukis dalam kanvas dunia

Jika hanya sepi yang selalu menari mengikuti

Ku lukis bayangan hidup

Nyatanya masa yang terlewat tak begitu indah untuk ku lukis

Bagaimana bisa seorang lelaki arungi hidup yang seperti ini

Apa aku harus khianati rasa ku

Mencari mereka yang lain

Mungkin bisa pudarkan sepi ku

Hingga kanvas hidup bisa mulai ku gores dengan senyum ku

  • 1 week ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Page 1 of 23
← Newer • Older →

Portrait/Logo

Sastrawi Mesin

Pages

  • About
  • Mysite
  • @semarketir on Twitter
  • Facebook Profile
  • semarketir on Youtube
  • semarketir on Flickr
  • My Skype Info
  • Linkedin Profile
  • semarketir on github

Twitter

loading tweets…

  • Post via daisymiaw
    Yang Kau Butuhkan

    Yang kau butuhkan adalah wanita jujur yang damai wajahnya saat tidur,

    Yang matanya terbelalak bergembira menyambut wajahmu yang...

    Post via daisymiaw
  • Photoset via ratihrahmahkemala
    Photoset via ratihrahmahkemala
  • Quote via ratihrahmahkemala
    “

    mereka menyangka,
    kita yang terlihat menangis hari ini,
    dihadapan mereka,
    adalah gadis lemah,
    yang tidak cukup kuat dan tabah,
    gadis manja,
    ...

    ”
    Quote via ratihrahmahkemala
  • Photoset via ratihrahmahkemala

    LONDON

    8-14/50 photos of London

    Photoset via ratihrahmahkemala
See more →

Top

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask
  • Submit
  • Mobile

Semar Ketir.

Effector Theme by Pixel Union